Setelah sekian lama gw berada di Jepang (2 bulan tepatnya) baru kali ini gw mengalami culture shock. Jadi ceritanya pas weekend kemaren gw dan 2 orang temen gw pergi ke Kyoto dalam rangka berlibur (I know,, kuliah aja baru mulai dengan tugas yang juga mulai banyak sebenernya itu bukanlah keputusan yang bijak.) Namun dengan berbagai pertimbangan yang mana salah satunya adalah kapan lagi bisa menikmati suasana autumn di Kyoto maka gw memutuskan untuk ikut serta dalam perjalanan itu,

Rencananya kami akan berangkat Jumat pagi (yang mana gw bilang pagi adalah pagi-pagi sekali yaitu jam 4.15 pagi dari apato). Dari apato kami menuju eki (stasiun kereta) untuk naik shinkansen (yup kereta yang katanya super cepat itu) menuju ke Kyoto. Pada pelaksanaannya, yang dilandasi oleh budaya ngaret yang ternyata sangat kental di kalangan bangsa Asia Tenggara (FYI temen gw itu asalnya dari salah satu negara di Asia Tenggara) maka keberangkatan kami tertunda sampai 20-an menit. Padahal si pemimpin rombongan sudah mengkalkulasi waktu sedemikian rupa sehingga kami bisa naik Shinkansen pertama. Apa daya karena keterlambatan itu akhirnya kami terpaksa harus naik shinkansen berikutnya yang membuat kami akhirnya tidak bisa mampir dulu ke penginapan untuk menaruh barang. Hal yang kemudian kami sesali sepanjang perjalanan.

Shinkansen tampak luar

Shinkansen tampak luar

Di dalam Shinkansen

Di dalam Shinkansen

 

 

 

 

 

 

 

Yang bikin gw mengalami culture shock bukanlah naik shinkansen ini. Hehhee.. karena terus terang gw kecewa dengan shinkansen. Ternyata ga cepet2 amat,, cuma 200-an km/jam. Gw dan temen gw berfikir kalau pas naik shinkansen gw ga bakal bisa melihat pemandangan di sekeliling gitu karena saking cepetnya. Ternyata gw masih bisa melihat pemandangan walau emang pemandangannya berlalu dengan cepat. Jadi pengalaman gw naik shinkansen adalah biasa-biasa aja. Yah.. atleast emang cepat sih sampai tujuan, cuma 2 jam bisa sampai kyoto (kalau naik bus/kereta biasa 9 jam). Selain itu di dalam shinkansen nyaman ui.. kayak naik pesawat (Liat aja fotonya).

Oke balik lagi ke topik awal.. hal yang membuat gw merasakan culture shock di Jepang adalah penginapan gw pas di Kyoto. Jadi ceritanya, gw sama temen2 gw itu dengan PD-nya baru nyari penginapan seminggu sebelum kita berangkat tanpa tahu kalau bulan november adalah musimnya orang berlibur ke Kyoto. Jadi setelah meng-mail sana sini, menelpon sana sini, dan hampir2 putus asa karena ga dapat penginapan, ada satu yang merespon email gw dan mengatakan kalau di tempatnya ada kamar kosong untuk 2 hari. Tanpa basa-basi lagi kami langsung mengkonfirmasi reservation itu.

Nama penginapannya adalah Kyoto-Cheapest Inn. Harusnya ya dari namanya aja gw sama temen gw mustinya udah mulai curiga kalau ni penginapan bukan penginapan yang bagus. Namun karena kami sangat-sangat excited untuk pergi ke Kyoto kami tidak melakukan cek dan ricek. Dan begitu sampai di sana mimpi buruk dimulai.

Kami sampai di penginapan ketika waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam. Setelah lelah berjalan seharian mengitari Kyoto kamipun berharap sesampainya di penginapan kami bisa beristirahat dengan nyaman. Dari peta yang kami punya, kamipun mulai menyusuri jalan untuk sampai di penginapan. (Harusnya dari peta itu saja gw mustinya udah curiga. Bahasa inggrisnya kacau balau dan itu penginapan ada di dekat toko yang bernama Sunk.us.. bayangin aja milih nama kok Sunk.. mau tenggelam sama-sama apa?).

dscn2816

Setelah berjalan dan berjalan, akhirnya kami menemukan juga itu penginapan yang ternyata ga seberapa besar tapi tinggi. (Man,, dia ga punya papan nama coba, cuma secarik kertas yang menempel di dinding gitu..). Sebenernya kami sudah merasa ada sesuatu yang salah tapi berhubung kami sudah lelah seharian kami menghiraukannya.

Nah ketika sampai di meja resepsionisnya, ternyata sang resepsionis itu tidak seberapa bisa berbahasa inggris. Dia cuma bergumam dalam bahasa setengah inggris setengah jepang dan cuma yes-yes doang. Waktu mengisi formulir ada pilihan kamar private, double, tripple, atau dormitory kita nanya ke dia kami dapat kamar yang mana. Dia bilang “Oke-oke. No need to fill this. Come on.” Lalu dia membawa kami ke kamar kami. FYI, karena pas gw pesen kamar gw minta kamar tripple atau dormitory yang cewek semua (notes cewek semua), kami berasumsi akan dibawa ke kamar yang berisi cewek semua. Ternyata dia membawa kami ke Mix Dorm.

Awalnya sih kami tidak tahu dan tidak sadar karena si resepsionis itu tidak bilang apa-apa. Kami cuma amazed karena dibawa ke lantai yang isinya kasur dua tingkat dan terlihat seperti barak pengungsi dari pada seperti penginapan. Padahal di web-nya dia bilang dormitory isinya cuma 6 orang. Begitu dia pergi kami hendak bersantai, tiba-tiba kami mendengar suara batuk. Dan suaranya itu suara cowok. Yup cowok.. Kami saling berpandangan. Dan sebelum sempat kami mempertanyakan apa yang terjadi, tiba-tiba ada cowok masuk ke ruangan kami itu dan menuju salah satu tempat tidur. And that’s when we know that this inn only provides mixed rooms.

barak pengungsi

barak pengungsi

Lalu kami pun mulai menenangkan diri dan turun ke bawah untuk protes kepada si resepsionis atau lebih tepatnya gw bilang penjaga penginapan tadi. Namun entah dia beneran ga ngerti atau pura-pura ga ngerti akhirnya kami pun merasa percuma ngomong sama dia dan kamipun menyerah kalah. Waktu kami sudah mau menerima kenyataan bahwa kami harus tidur di tempat itu, tiba2 suara batuk yang pertama kami dengar itu menjadi semakin berlarut. Macam orang sakit kronis. Lalu disusul bau yang tidak sedap menyerang hidung. Akhirnya kamipun memutuskan untuk tidak tidur di tempat itu alias cabut.

Setelah mandi (yang sama sekali ga nyaman dalam prosesnya) kamipun memutuskan cabut dari sana dan “menikmati” kota Kyoto di malam hari (jam 11.30 malam). Atas bantuan teman yang menghubungkan kami pada temannya teman dia, kami dapat tempat menginap untuk malam itu. Dan paginya, kamipun merevisi rencana perjalanan kami karena penginapannya tidak sesuai dengan harapan. Jadinya kami berlibur bukan 3 hari 2 malam melainkan cuma jadi 2 hari 1 malam. Overall selain penginapan yang luar biasa itu perjalanan ke Kyoto sangat menyenangkan. Oh, yang bikin gw pengen nyumpah-nyumpahin tu Jepang siau* itu bukan hanya karena gw merasa ditipu tapi juga kami ga boleh membatalkan reservasi yang malam ke dua. So we paid for nothing (mana gw ngutang lagi buat jalan-jalan itu).. Dasar Jepang!!!