Pengumpan RSS

Opera Diponegoro

Posted on

Tiket Opera Diponegoro

Pada hari Sabtu kemaren (tanggal 12 November 2011), gw pergi menonton Opera Diponegoro di Taman Ismail Marzuki. Gw, weekend, pergi, dan bayar adalah kata-kata yang ga biasanya gw sandingkan bersama dalam satu kalimat. Tapi entah kenapa weekend kemarin gw mendapat ilham untuk menonton Opera Diponegoro. Mungkin karena gw selalu adoring sejarah. Mungkin karena gw pengen tahu rasanya nonton teater, opera, dan semacamnya. Mungkin juga karena gw bosen di kamar ga ngapa-ngapain. Anyway, motivasi gw menonton itu acara tidaklah begitu penting. Yang penting sekarang adalah gw pengen menuliskan kesan gw terhadap pertunjukan Opera Diponegoro.

Panggung Opera Diponegoro

Kesan pertama gw pas melihat panggung adalah, ‘hmmm… kok kayaknya kecil ya panggungnya’. Terus gw nyadar kalau layar lukisan Raden Saleh itu bukan background, melainkan layar penutup yang bisa diangkat. Pas pertunjukan dimulai, gw udah menunggu-nunggu layar diangkat, tapi ternyata mereka tidak mengangkat layarnya, melainkan mereka bermain dengan lighting sedemikian rupa sehingga layarnya jadi tembus pandang. Penonton seperti disuguhkan pertunjukan yang ada dalam sebuah kotak. I must say, that I was really impressed with the concept.

Awalnya gw pikir pertunjukan ini adalah semacam pertunjukan teater yang pakai dialog namun diganti dengan tari atau musik gitu. Ternyata isinya full tarian dan nyanyian dilakukan oleh narator (Iwan Fals). I must say that I was quite disappointed with that. It was beautiful and quite mind boggling, but to be honest I was having quite hard time to understand some scenes.. hehehe.. Luckily having the narrator is quite helpful. That way, I could understand or guessed the meaning of some scene from the lyric that was sung by the narrator. 

Ada beberapa scenes yang bugging my mind. Pertama adalah scene ketika Nyi Roro Kidul muncul, gw ga habis ngerti kenapa Pangeran Diponegoronya musti muter-muter kayak gangsing di sono? hehehe.. Terus yang kedua scene ketika pesta para serdadu Belanda. Mereka menggunakan kursi lipat modern!! That was so out of place!!! Other than those scenes, I think I was watching in awe hehehe…

Overall, I was impressed and I won’t mind to watch another play like that again sometimes… Gw hanya berharap ketika nonton pertunjukan berikutnya, sense seni gw sudah jauh lebih baik dari yang sekarang sehingga gw bisa lebih mengapresiasi pertunjukan itu.. hahaha..

Tentang kunya

Me?? I'm just an ordinary girl who try to do an extraordinary things.. I love to read and also love to write,, my favorite writer is Pramoedya Ananta Toer.. he was the greatest writer,, his books are awesome.. they talk about humanity and I love the way he wrote them, it touch me in the heart..

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.