Kudeta 3 Juli 1946: Benarkah Kup Tan Malaka?

Akhirnya setelah mencari-cari di toko buku online, gw berhasil mendapatkan Buku Tan Malaka, Gerakan Kiri, dan Revolusi Indonesia Jilid 2 dan 3. Gw baru selesai membaca Part (Bab) 1 dari buku jilid 2 ini. Biasanya, gw akan mereview kalau sudah selesai membaca satu buku utuh, tapi gw merasa Bagian Pertama dari buku ini (“Kup Tan Malaka?”) wajib mendapat apresiasi khusus karena selain temanya yang super menarik (at least bagi gw) juga karena mengandung banyak fakta sejarah yang tidak banyak diketahui oleh khalayak ramai. 

Kalau di jilid pertama diceritakan tentang bagaimana Tan Malaka berusaha untuk memasukkan dirinya dalam kancah perjuangan pasca proklamasi dengan mendirikan Persatoean Perdjoeangan (PP), di jilid kedua ini diawali dengan menceritakan bagaimana kancah perjuangan Tan Malaka dan para pengikutnya setelah ditangkap oleh pemerintah karena dituduh sebagai pengacau perdamaian dan provokator.

Penangkapan yang sebenarnya mungkin lebih tepat disebut dengan penculikan karena tanpa melalui prosedur penuduhan dan pengadilan ini, ditujukan untuk menyingkirkan tokoh – tokoh radikal oposisi yang oleh pemerintah dianggap memecah belah persatuan antara pemerintah dengan rakyatnya. Yang dari apa yang gw tangkap dari bukunya Poeze ini memang sedemikian adanya. Gw ga menuduh kalau Tan Malaka cs. memecah belah persatuan, tapi memang dalam kondisi Republik yang masih muda dan tidak memiliki bargaining position yang kuat di mata dunia internasional. Ketidakkompakan internal Republik will do more harm than do good, walau apa yang dituntut oleh pihak oposisi itu memang hal yang dirasa benar.

Secara pribadi, ketika gw membaca tuntutan PP, terus terang gw berada di pihak para oposan yang mendukung minimum program yang singkat, padat, dan jelas. Kabinet Sjahrir yang terkesan lembek dan terlalu mengalah dalam setiap perundingan dengan Belanda, menambah kencang usaha pihak oposisi untuk semakin menyuarakan suara rakyat dan membawa pemerintah ke jalan yang “benar”. Sayangnya, karena dasar pembentukan PP yang lemah, ketika mengalami goncangan dari Pemerintah berupa penangkapan tokoh – tokoh utamanya seperti Tan Malaka, Sukarni, Chairul Saleh, Muh. Yamin, dan Soebardjo, PP menjadi tidak ada taringnya lagi. Partai – partai yang semula bergabung dalam PP dan mendukung Minimum Program itu satu persatu mulai berjatuhan dan memilih untuk mendukung program Pemerintah yang dibuat sedemikian rupa sehingga redaksionalnya sekilas mirip dengan minimum program, yang kata Tan Malaka jauh sekali bedanya dengan Minimum Program.

PP yang tidak didukung oleh tokoh – tokoh utamanya dan mulai ditinggalkan oleh partai – partai besar pendukungnya jadi semakin terpuruk dan kemudian mencapai ajalnya dengan dibentuknya Konsentrasi Nasional. Sebuah wadah yang dibentuk oleh Partai Sosialis dan Pesindo (dua pendukung utama Sjahrir) untuk menggantikan PP sebagai suatu wadah “persatuan” antar partai-partai dan badan-badan perjuangan di Republik Indonesia. Kondisi ini sebenarnya sangat menyedihkan bagi Tan Malaka. Dia bahkan tidak bisa menyaksikan secara langsung “kematian” anak kesayangannya itu karena lagi – lagi dia dibuang dan diasingkan dari kancah perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Sebenarnya, yang membuat Persatuan Perjuangan-nya Tan Malaka tidak sanggup untuk mengatasi krisis itu adalah, karena tidak adanya Partai dengan pendukung besar semacam PNI, Masyumi, Partai Sosialis, atau PKI yang berdiri dibelakangnya. Tidak seperti Konsentrasi Nasional yang digawangi oleh PS dan Pesindo, PP ini murni sebagai wadah tempat partai dan badan perjuangan berkumpul dan berserikat. Oleh karenanya, PP ini terdiri dari macam – macam golongan dan macam-macam ideologi yang pada akhirnya tidak mampu melihat dengan kacamata yang sama. Tan Malaka mengharapkan partai dan badan perjuangan yang tergabung dalam PP itu, melihat dengan perspektif satu yaitu Minimum Program. Tapi apa daya, karena karakter dan latar belakang ideologi yang berbeda-beda, pemahaman terhadap Minimum Program itu sendiri ternyata juga bervariasi. Runtuhnya satu – satunya senjata Tan Malaka ini disebut – sebut sebagai latar belakang dilakukannya kudeta pada tanggal 3 Juli 1946, yang bertujuan menggulingkan kabinet Sjahrir dan mengganti pemerintahan dengan orang – orangnya Tan Malaka.

Oleh pemerintah, peristiwa perebutan kekuasaan tanggal 3 Juli 1946 ini disebut-sebut didalangi oleh Tan Malaka cs. Disebutkan dalam keterangan resmi pemerintah pada tanggal 6 Juli 1946, bahwa Tan Malaka hendak merebut kekuasaan dari kabinet Sjahrir dengan menempatkan orang-orang terdekatnya dan bahkan hendak menggantikan Soekarno menjadi Kepala Negara. Padahal, kalau membaca buku Poeze, sama sekali tidak ditemukan bukti bahwa Tan Malaka berhubungan dengan orang – orang yang menjadi pentolan dalan peristiwa 3 Juli tersebut. Bahwa yang menyusun naskah tuntutan itu adalah Yamin dan Soebardjo yang notabene orang-orang terdekat Tan Malaka, tidak ada bukti bahwa sebelum menyusun naskah tersebut Yamin berkonsultasi secara mendalam terlebih dahulu dengan Tan Malaka. Dari hasil penelitian Poeze, diterangkan bahwa aktivitas Tan Malaka selama diasingkan di Tawangmangu hanyalah menyusun pemikirannya dalam bentuk buku tentang perjuangan kemerdekaan kedepannya.

Lalu kenapa nama Tan Malaka disangkut-sangkutkan dalam peristiwa 3 Juli 1946? Karena pemerintah butuh tokoh untuk dijadikan sebagai evil perpetrator yang harus menanggung kesalahan dan dijadikan musuh bersama. Kalau dari buku Poeze, peristiwa 3 Juli itu sama sekali bukan diniatkan untuk menggulingkan pemerintahan republik seperti yang dinyatakan dalam siaran resmi pemerintah. Peristiwa itu terjadi hanya karena ada orang yang kebetulan memiliki senjata dan kewenangan untuk melakukan sesuatu, merasa bahwa Sjahrir sedang menggadaikan Republik ini dengan politik perundingannya yang sama sekali tidak berpihak pada Indonesia. Pemicu penculikan Sjahrir dan penuntutan penggantian kabinet menjadi kabinet koalisi adalah reaksi spontan dari para tokoh yang merasa sedang bertindak untuk bangsa.

Penculikan Sjahrir sendiri pun sebenarnya bukan suatu rencana yang disusun matang, karena ide awalnya datang dari A.K Joesoef, Kepala Tentara Pendjagaan Kota (Jogjakarta), yang ingin menculik Sjahrir karena dianggap telah merugikan bangsa dengan hasil perundingannya. Karena pada waktu itu Sjahrir sedang ada di Solo, yang berarti di luar wilayah kekuasaan Joesoef, dia meminta surat perintah kepada Soedarsono, kepala divisi yang merupakan tangan kanan Jendral Soedirman. Akhirnya dari Soedarsono, ide itu merembet sampai penasihat – penasihat politiknya Soedirman dan sampai pada Yamin dkk. Soedirman sendiri ditengarai tidak tahu dengan detail mengenai rencana ini (dalam persidangan, Soedirman mengaku tidak tahu menahu, tapi dari hasil dokumentasi Poeze, diyakini bahwa paling tidak Soedirman tahu akan rencana ini walau tidak secara detil.)

Karena tanpa rencana yang matang, akhirnya Kup ini berhasil digagalkan dengan mudah oleh pemerintah (dalam hal ini Sjahrir dan Amir Sjarifuddin). Bahkan penculikan Amirpun gagal sehingga ketika pihak Soedarsono menyampaikan tuntutannya pada Presiden Soekarno, pihak pemerintah sudah jauh lebih siap dari pihak Soedarsono. Kup ini juga tidak didukung dengan adanya aksi massa dan aksi militer seperti yang diharapkan. Partai-partai seperti Masyumi, PNI, dan PBI yang diharapkan mengerahkan massa ke jalan – jalan untuk berpawai tidak menjalankan hal tersebut. Lalu dari segi militer sendir, ternyata Soedarsono tidak mendapatkan dukungan yang penuh dari divisi lain maupun kesatuan lain. Terbukti dengan munculnya Soeharto yang ditugaskan langsung oleh Presiden Soekarno untuk menangkap Soedarsono dan yang terlibat dari pihak – pihak tentara dan polisi.

Tuntutan yang diajukan (yang disusun oleh Yamin sebagai otak utamanya) pun terkesan dibuat dengan segera dan serta merta. Banyak nama yang diajukan sebagai pengganti dalam kabinet yang sebenarnya tidak tahu menahu tentang rencana ini, seperti Ki Hadjar Dewantara dan Wachid Hasyim yang namanya tercantum sebagai calon menteri di kabinet koalisi yang diajukan oleh Soedarsono.

Kedepannya, Kup 3 Juli ini tidak mendapatkan porsi penting dalam sejarah perjuangan Indonesia. Sewaktu gw sekolah, gw ga merasa pernah membaca mengenai kup 3 Juli ini. Gw malah baru tahu ada ketika membaca Buku Poeze ini. Lalu nama Soedirman pun dalam banyak buku – buku yang terbit setelahnya, hanya dicantumkan sekilas atau bahkan dihilangkan sama sekali. Versi yang diambil adalah versi pemerintah yang menyatakan bahwa ini adalah Kup Tan Malaka yang bertujuan menggulingkan pemerintahan yang sah.

Membaca buku – buku seperti karya Poeze ini memberikan perspektif yang lebih luas dalam memandang sejarah bangsa Indonesia. Memberikan nuansa baru dalam memandang tokoh – tokoh nasional kita semacam Soekarno, Hatta, Sjahrir, Amir Sjarifuddin, Soekarni, Moh. Yamin, Tan Malaka, dll. Membaca buku ini memberikan pengetahuan lebih akan kondisi dan suasana awal – awal kemerdekaan yang begitu rentan dan penuh dengan intrik – intrik. Membaca buku ini gw jadi membayangkan ada ga sih produser gila yang mau membuatkan sinetron (drama series) berdasarkan peristiwa – peristiwa yang terjadi seputar kemerdekaan? Pasti akan keren abis! Aksi penculikan, aksi perundingan, aksi perjuangan, pasti akan jadi epic. Sayangnya, Indonesia ini bukan Jepang atau Korea yang mau membuatkan drama dengan tema – tema yang seperti itu. Mentalitas produser dan penonton kita hanya sanggup mencerna cerita cinta gadis miskin yang akhirnya dapat lelaki kaya macam Cinta Fitri dengan season without end-nya itu.

One thought on “Kudeta 3 Juli 1946: Benarkah Kup Tan Malaka?

  1. Pendahuluan
    Proklamasi kemerdekaan Indonesia telah dinyatakan oleh Soekarno-Hatta atas nama bangsa Indonesia pada hari Jum’at 17 Agustus 1945. Hal ini membawa konsekuensi bagi bangsa Indonesia dari berjuang mencapai kemerdekaan, menjadi berjuang untuk mengisi kemerdekaan. Namun sebelum usaha untuk mengisi kemeredekaan dilakukan, berkaitan dengan situasi dan kondisi transisi akhir Perang Dunia II, perjuangan bangsa Indonesia yang pertama harus dilakukan adalah mempertahankan kemerdekaan yang masih relatif baru dinyatakan. Ancaman yang datang bukan hanya dari luar, yaitu Belanda yang kembali ingin menguasai Indonesia, tetapi juga ancaman dari dalam negeri yang berupa disintegrasi.
    Kalimat ke dua dalam teks proklamasi kemerdekaan Indonesia tertulis “Hal-hal jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l, diselenggarakan dengan tjara saksama dan dalam tempo jang sesingkat-singkatnja”. Para Founding Fathers negeri ini telah menyadari, bahwa untuk mendirikan negara yang berdaulat, tidak cukup hanya dengan pembacaan teks proklamasi. Kekuasaan yang sebelumnya dipegang kaum penjajah, harus dipindahkan kepada bangsa Indonesia. Tata cara pemindahan kekuasaan inilah yang diantara para Faunding Fathers mengalami penafsiran yang berbeda. Sebagian menafsirkan “dengan tjara saksama” adalah dengan cara perundingan atau diplomasi, sementara sebagian lagi menafsirkan kekuasaan itu harus dipindah atau direbut dari kaum penjajah dengan cara kekerasan, perang atau konfrontasi.
    Hubungan antara kelompok yang setuju dengan strategi diplomasi dengan kelompok yang setuju dengan strategi konfrontasi dalam mempertahankan republik, adalah hal yang sangat menarik dikaji. Termasuk juga friksi-friksi yang terjadi dalam kelompok masing-masing, yang tidak hanya hubungan antara Sipil dengan Militer, hubungan antara Pesisir (Jakarta) dengan Pedalaman (Yogyakarta). Cara yang ditempuh satu kelompok (diplomasi) kadang dianggap merugikan kelompok lain (konfrontasi), begitu pula sebaliknya, sehingga hasilnya bisa menjadi merugikan semuanya. Kadang sampai saling serang dan menjatuhkan, namun juga pernah saling membahu menopang beriringan. Padahal jika seluruh potensi bangsa bisa dipadukan dalam perjuangan, tentu “pemindahan kekoeasaan d.l.l. diselenggarakan dalam tempo jang sesingkat-singkatnya” adalah menjadi suatu keniscayaan.
    Tesis (S-2) saya di Program Studi Ilmu Sejarah UI Depok Pebruari 2004. Salam JASMERAH!

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s