Lagi bosan dan memutuskan untuk memposting cerita yang sedang gw tulis.. baru bab pertama dan gw ga tahu apa bisa selesai atawa kagak.. Hope you are enjoying the story..

**** 

Akhir Cerita Kita a.k.a Cerita Klise tentang Cinta

 

 

1

 

Sebelum lo membaca lebih jauh, gue peringatkan kalau cerita ini tak jauh beda dengan cerita-cerita klise lainnya. Kalau lo mencari sesuatu yang segar, baru, dan berbeda gue sarankan segera tutup layar ini dan cari cerita yang lain. Karena cerita gue ini benar-benar cerita klise. Cerita tentang gue dan dia dengan cinta sebagai menu utamanya.

 

Nama gue Saskia, tapi gue lebih suka kalau dipanggil Qi. Terkesan lebih fresh, lebih unik, dan lebih maskulin. Sebelum lo salah sangka gue tegaskan kalau gue 100% cewek. Lahir sebagai cewek dan semoga matipun nanti sebagai cewek. Dan oh, hanya karena gue ingin nama gue terdengar lebih maskulin bukan berarti gue lesbian atau punya kecenderungan ke situ. Gue suka jadi cewek dan gue juga berterimakasih sama Tuhan karena menjadikan gue sebagai cewek, namun terkadang gue merasa ada sesuatu dalam diri cewek yang membuat tekanan darah gue jadi tinggi.

 

Orang-orang terutama cewek-cewek di sekitar gue selalu bilang kalau gue itu tomboy alias “kelelaki-lakian”. Gue ga tahu kenapa mereka berpendapat seperti itu karena sejauh yang gue ingat gue ga berniat apalagi berencana menjadi golongan makhluk yang isi otaknya 99% hal tak berguna yang mendorong mereka berfikir memakai otot daripada memakai otak. Mungkin sebutan itu lebih karena penampilan gue yang tidak seperti cewek kebanyakan.

 

Daripada memakai rok yang berkibar-kibar dan tidak praktis, gue jauh lebih suka memakai jins. Dari pada memakai kaos yang saking ketatnya mungkin bisa membuat susah bernapas, gue lebih suka memakai kemeja atau T-shirt longgar. Hey, jangan menyalahkan gue kalau gue ingin hidup lebih lama.

 

Lalu daripada membuang waktu untuk mengoleskan segala macam pewarna di muka yang mungkin bisa membuat gue gatel-gatel, gue lebih suka membiarkan pori-pori wajah gue bersentuhan langsung dengan udara terbuka. Dan dari pada sibuk sok cute dan berakting lemah untuk kemudian bergantung pada cowok ga berguna, gue lebih suka dipandang sebagai seorang yang mandiri dan bisa mengerjakan segalanya sendiri.

 

“Aduh… berat… Bu Mirna tega banget nyuruh cewek buat ngangkat buku seberat ini. Mana jauh lagi dari lantai 3 ke lantai 1.”

 

Mau ga mau, seakan sudah otomatis, mata gue memandang cewek yang sedang berjalan di sebelah gue dengan pandangan tak suka. Dan dia memandang gue dengan tatapan tak bersalah.

 

Walau gue sudah sering mendengar keluhan ala cewek macam ini, tapi gue ga pernah bisa terbiasa. Tiap kali mendengarnya gue pengen muntah. Apalagi kalu ditambah dengan tingkah sok innocent macam itu.

 

Oke memang gue akui kalau buku ini memang beratnya minta ampun, tapi ga perlu mengucapkan keluhannya keras-keras hingga bisa didengar oleh seluruh lantai. Dan hellow,, gue membawa beban yang lebih banyak dari dia dan gue cuma memaki dalam hati. bi.tch! Ups… maafkan kata-kata kasar gue, tapi yang seperti gue bilang ada sesuatu pada cewek yang selalu membuat saraf gue pengen putus saking tegangnya. Dari pada gue mati karena ga sanggup menahan tekanan itu lebih baik gue melepaskannya bukan?

 

 

 

Balik lagi pada plot awal, terima kasih berkat pengumuman itu akhirnya ada satu makhluk tak berguna yang yang gue rasa berjenis kelamin cowok itu (hey, jangan salahkan gue kalau ragu dengan jenis kelaminnya karena cowok sekarang dandanannya ga kalah dengan cewek. Parfum menyengat, rambut yang diminyak sampai halus, pakaian necis licin… kemana makhluk kotor berotot yang gue kenal?) mendekati kami, atau lebih tepat kalau gue bilang mendekati cewek di sebelah gue ini. Dengan sedikit senyum dan basa-basi yang benar-benar basi, dia akhirnya menawarkan bantuan untuk mengangkat beban yang terlalu berat untuk tangan kecil yang lemah dan rapuh itu, yang tentu saja bukan milik gue.

 

“Lo ga bantu Qi juga?”

 

Sekali lagi gue melemparkan tatapan membunuh ke arah cewek di sebelah gue itu. Dan sekali lagi dia berlagak tidak bersalah. Innocent as angel, itu pesan yang gue tangkap dari matanya.

 

“Uhm.. gue rasa dia kuat-kuat saja.” Kata monyet bodoh di hadapan gue itu takut-takut.

 

Yah, wajar saja sih dia takut, soalnya gue mengeluarkan tatapan paling tajam milik gue yang kata cewek di sebelah gue ini benar-benar bisa membunuh kalau saja mata gue bisa mengeluarkan laser seperti superman ke arah monyet itu. Hey, bukan salah gue kalau gue berniat membunuh dia, karena monyet bodoh ini menghentikan perjalanan gue yang masih jauh yang membuat tangan gue makin pegal karena membawa buku-buku sia.ul (sekali lagi maaf atas pilihan bahasa gue) ini.

 

“Ih.. tega amat sih lo.. Biar begini Qi juga kan cewek. Mana sanggup mengangkat beban seberat ini?”

 

Sumpah gue pengen muntah. Lagi-lagi cewek di sebelah gue ini bertingkah sok imut. Gue terkadang berfikir kalau saja yang bertingkah seperti ini bukan cewek yang langsing, putih, dengan mata lebar, mulut tipis, pipi kemerahan, rambut hitam panjang lurus, modis, seksi (?) macam makhluk di samping gue ini apa iya itu monyet ini mau bersusah payah membantu? Dan what the he.ll dengan biar begini juga gue cewek?

 

Dari mata si monyet itu gue bisa melihat dia keberatan dengan ide membantu gue yang biar begini cewek juga itu. Karena gue yakin tangannya juga pasti sudah mati rasa membawa beban yang cuma segitu saja. Dan gue juga tidak yakin dia sanggup mengangkat buku-buku itu jika ditambah dengan buku-buku di tangan gue yang hellow,,, sudah kram akut ini. Tapi demi si imut yang cantik di samping gue ini mana mau si monyet bodoh ini mengakui kalau dia tidak sanggup?

 

“Ga perlu. Gue bisa sendiri.” Kata gue tegas ketika dia menawarkan bantuan. Dan gue berani sumpah gue bisa lihat mata si monyet itu memancarkan kelegaan yang amat sangat.

 

“Mana bisa gitu Qi. Gue yakin tangan lo pasti sudah kram. Lagipula ga bagus dilihatnya kalau cewek mengangkat beban berat sementara ada cowok di dekatnya. Sini gue bantu pindahin.”

 

Tanpa sedikitpun rasa bersalah apalagi kasihan, cewek di sebelah gue ini mulai memindahkan beban di tangan gue ini ke tangan monyet yang memandanginya dengan muka melas itu.

 

“Yup! Gini kan bagus dilihatnya.” Kata cewek yang gue rasa jauh lebih kejam dari gue itu dengan senyum puas.

“Eh, ga berat kan?” tanya “malaikat” di samping gue itu dengan sok polos. Si monyet bodoh itu cuma bisa menggeleng. Toh kalaupun berat mana bisa dia bilang di hadapan makhluk cantik dan imut namun mematikan ini? Gue yakin sekarang monyet bodoh ini memaki-maki dalam hati atas nasibnya yang begitu sial bertemu dengan kami, atau lebih tepatnya gue sebut cewek di sebelah gue ini. 

 

“Qi, jangan lupa Minggu lo musti standby dari pagi di rumah gue.” Kata cewek di sebelah gue dengan ceria.

 

“Mmm?” jawab gue tidak fokus karena gue memperhatikan monyet bodoh di depan kami yang sepertinya sebentar lagi akan ambruk karena ga kuat membawa beban di tangannya itu. Jangan salah, bukannya gue khawatir atau apa, gue cuma ga mau dituntut kalau terjadi apa-apa sama dia aja.

 

“Qi, denger ga sih?”

 

“Lo yakin dia kuat?” tanya gue sambil mengerutkan kening

 

“Apa? Siapa?” kata cewek di sebelah gue dengan pandangan bingung. Begitulah cewek. Mereka cenderung lupa dengan makhluk bodoh yang selalu mengikuti kemauan mereka.

 

“Dia.” Kata gue sambil menunjuk sosok limbung di depan kami itu

 

“Oh.” Jawabnya pendek.

 

Lalu dia menambahkan, “Dia bilang dia kuat kok. Biarin aja.”

 

Mengerti apa maksud gue?

 

“Balik lagi ke topik awal kita. Jangan lupa hari minggu ini lo ke rumah gue dari pagi sebelum jam 9.”

 

Gue memandang cewek di sebelah gue dengan muka heran.

 

“Ya ampun, jangan bilang lo lupa. Hari Minggu…” dan karena gue masih juga tak mengerti apa yang dia maksud akhinya dia menambahkan, “Ultah gue? Inget sekarang?”

 

“Ooo…” jawab gue

 

“Gue ga bisa percaya! Bisa-bisanya lo lupa dengan hari ulang tahun ke-17 sahabat lo. Ch… Pastikan lo datang sebelum jam 9 dan bawa kado.” Kata si cewe dengan kesal.

 

Oh, dan tenang saja kalian ga salah baca kok. Cewek di sebelah gue ini memang menyebut dirinya sebagai sahabat gue, dan mungkin dia ada benarnya walau sebenarnya gue ga gitu mengerti dengan segala konsep persahabatan. Yang pasti gue dan cewek centil yang sudah membuat gue muak berkali-kali ini sudah bersama dari es-de atau TK ya? Gue lupa. Pokoknya sudah dari lama. Dan mungkin Tuhan senang bercanda, Dia membuat entah bagaimana gue dan cewek centil ini selalu berkaitan entah itu piket kelas, proyek kelompok, bahkan sampai bangku tempat duduk yang akhirnya membuat kami terikat dalam konsep aneh yang dia sebut persahabatan itu. Dan btw, nama cewek centil ini adalah Melati. Ch.. nama yang cewek banget..

 

Akhirnya setelah melalui sekian ratus (?) anak tangga dan ruangan kelas, kami tiba di ruang guru. Dan gue rasa, gw bisa mendengar jeritan bahagia si monyet itu ketika akhrnya kami tiba di meja Bu Mirna guru sejarah yang suka sekali menyiksa murid-muridnya dengan menyuruh membawa buku diktat yang tebalnya minta ampun itu fdari ruangannya ke kelas. Dan setelah basa-basi dengan Bu Mirna untuk memastikan bahwa kami telah mengantarkan buku-buku kesayangannya itu dengan selamat kamipun bergegas keluar dari ruang kelas.

 

“Gue heran kenapa sih dia ga menyuruh kita beli buku itu aja?” gerutu Melati. Weiks, gue ga suka menyebut nama cewek ini. Buat kalian yang punya nama sama, jangan tersinggung.. gue cuma merasa nama itu terlalu… cewe.

 

“Lo lupa? Itu kan buku karangan dia yang ga laku dipasaran.” Jawab gue pendek. Dan memang buku itu adalah hasil karya guru tercinta kami yang sudah beratus-ratus kali (gue dengar ini dari kakak kelas) ditawarkan ke penerbit dari yang besar sampai amatiran yang bahkan namanya saja kalian ga bakal tahu, tapi tidak satupun dari mereka yang memberikan respon. Jangankan diterima, surat penolakan saja tidak ada (Sekali lagi gue dengar ini dari kakak kelas benar tidaknya tidak bisa dijamin. Namanya juga kabar burung.)

 

Si Melati cuma bersungut-sungut sendiri mendengar jawaban gue.

 

“Uhmm… Mel..”

 

Sapaan yang membuat gue dan Melati menyadari bahwa ada makhluk lain di sekitar kami yaitu si monyet bodoh. Gue mengerutkan kening bertanya-tanya apa gerangn yang membuat si monyet bodoh ini masih berada di sini. Lalu gue sadar kalau dia belum mendapat “bayarannya”. Kalian tidak mungkin mengira di dunia ini ada yang gratis bukan?

 

“Iya Rio? Kenapa?” balas Melati dengan nada manis yang sekali lagi membuat gue hampir muntah. Dan oh, dari mana si Melati bisa tahu nama monyet bodoh ini? Gue pikir ini pertama kalinya kami bertemu. Tapi kemudian gue menyadari kebodohan gue. Melati mungkin teman gue tapi bukan berarti dia seperti gue yang sama sekali tidak mengenal orang lain selain dia.

 

“Mengenai pesta ulang tahun lo. Apa bisa…”

 

Sebelum si monyet, ehm maaf… siapa tadi namanya gue lupa, menyelesaikan omongannya, Melati tiba-tiba meneriakkan sebuah nama dan benar-benar mengabaikan si entah siapa tadi namanya itu.

 

“Raka!!!!”

 

Mendengar nama yang diteriakkan oleh Melati, gue cuma bisa mendengus jijik. Dalam radius kurang dari 50 meter berdiri makhluk yang namanya diteriakkan oleh Melati dengan riangnya. Jika dibandingkan dengan monyet yang sekarang mendengus kesal di dekat gue ini, si makhluk yang sekarang menjadi tujuan lari Melati itu, penampilan mereka berbeda 180 derajat. Kalau si monyet ini klimis rapi si makhluk baru itu acak-acakan dan cuek. Tapi ada sesuatu dari dia yang lebih menarik dari pada si monyet ini dan dari kebanyakan makhluk sejenis mereka. Man, yang benar saja.. gue tidak bermaksud memuji.. Lupakan-lupakan.. dia cuma monyet bodoh yang lain.

 

“…tega kan? Masa Bu Mirna nyuruh cewek buat ngangkat buku berat macam itu?” kata Melati dengan lengan yang bergelayut pada lengan si monyet bodoh yang lain itu.   

 

Si monyet bodoh yang lain itu cuma tertawa mendengar keluhan Melati yang dilanjutkan dengan keluhan lain dan cerita yang tidak penting. Dan yang gue bingung entah kenapa gue berakhir dengan mengikuti dua makhluk yang membuat gue muak itu. Mungkin karena mereka berjalan ke arah kantin dan kebetulan gue lapar atau mungkin memang gue sangat-sangat menyedihkan karena hanya punya satu teman yang selalu menyeret-nyeret gue kemana-mana. Oh, dan kalau kalian ingin tahu tentang nasib si moyet nomor satu, dia berakhir menyedihkan dan terlupakan.

 

“Ayo dong Ka.. Masa cuma Qi yang bantu-bantu? Butuh tenaga cowok juga.”

 

Gue mengernyit heran ketika nama gue disangkut-pautkan dalam pembicaraan mereka. Si makhluk menyebalkan itu mengerutkan keningnya lalu memandang gue.

 

“Kalau ada dia, berarti lo sudah ga butuh tenaga cowok lagi. Bukankah tenaga dia sudah sama dengan 10 cowok?” katanya dengan cengiran mengejek yang sumpah membuat gue ingin melemparkan botol Cola di tangan gue ke arahnya.

 

“Aaa… ga sama kan Ka…”

 

Melati mulai melancarkan segala macam bujuk rayu. Dan makhluk sialan itu memandang gue dengan tatapan mengejek dan masih dengan cengiran sia.ul itu. Gue rasa gue bisa mendengar gigi gue gemeletuk menahan amarah. Selain tingkah “cewek” Melati, ada satu lagi yang bisa membuat gue mati muda. Makhluk tak tahu diri yang ada di hadapan gue sekarang ini.

 

Ya Tuhan, gue benar-benar benci sama makhluk yang satu ini. Sangat-sangat benci.

 

***

 

4 Tanggapan to “Short Story”

  1. seriusamat Says:

    Hai kamu anak TN bukan? Salam kenal ya

  2. qq luvrun Says:

    hai Qi?? *bener khn?* gw blh khn ngsh comment,,
    hehe.. salam kenal dr gw,,nma gw QQ
    “Daripada memakai rok yang berkibar-kibar dan tidak praktis, gue jauh lebih suka memakai jins. Dari pada memakai kaos yang saking ketatnya mungkin bisa membuat susah bernapas, gue lebih suka memakai kemeja atau T-shirt longgar.”,,
    Sepakat Qi!! gw plg ngenes klo ngelihat nyokap gw bleiin baju yg ngepas.
    sdikit crita,,gw khn kurus dn mungil *mksd’y ga tinggi*,, pernah sekali tmn gw nyaranin gw pk baju yg ngepas di badan dgn alasan sperti ini “Q,lw itu hrus pake bju yg agk ketat biar kelihatan gemuk!” what!! ga slh dgr gw!!
    tp yasuwlh,,ga gw pusingin ini..
    klo gw blh te,,lw kuliah dmn dn ambil jurusan ap..
    thanks yup

  3. kunya Says:

    Makasih buat yang sudah meninggalkan jejak di sini..

    @ seriusamat, bukan2,, gw bukan anak TN (maksud lo Taruna Nusantara kan ya??) gw dari SMA biasa2 ajah,,, emangnya tulisan gw terlihat seperti anak TN??

    @qq, hehehe,,, si Qi ini cuma tokoh karangan gw aja (walo beberapa sifatnya gw adaptasi dari sifat gw sih,,).. Lo bisa panggil gw sesuai dengan nama ID wordpress gw.. hihihi,, sekarang gw sedang S2 di Jepang ngambil jurusan Sustainability Science,, tulisan gw ga mencerminkan umur gw mohon maap.. kekeke…

  4. week_@ Says:

    hahaaha…kunya, gw bener2 salut ama cerita lu yang notabenenya diadopsi ma sifat lu sendiri (red:respon lu di atas..). Jujur aja ya, gw juga bukan tipe cewek yang kecewek2an..(ngrti kan maksud gw??), but gw juga nyadar kalo gw cewek dengan segala kodratnya… tapi kalo boleh gw share dsn, tyt eh tyt emng ga banyak orang di dunia ini yang mengerti kalo cewek itu diapa2in juga teteup..cewek..(red: ga bisa disamain ma cowok..walopun ibu kartini memperjuangkan ttg persamaan hak dan kewajiban tapi nampaknya menurut opini gw nii..banyak yang salah persepsi…)
    truss..ttg cewek yang hhmm..apa ya bahasanya (centilkah?? ato hiperbolanya nii..pandai memanfatkan kelebihan fisiknya..)jujur buangett…semenjak gw kerja nii..gw sering bgt ketemu kasus kayak gitu. Dan buruknya..knp si cewek itu sll mjdkan gw sebagai kambing hitamnya dia kalo dia lagi bermasalah….siallll bgt kan..emng gw apaan coba???untuk saat ini gw mencoba buat bersabar…sabar..dan sabar…
    finally…thanx to kunya buat cerita lu yang cukup membuat gw terkesan ttg cewek..hahaaa..

Tinggalkan Balasan