Seorang teman pernah bertanya padaku kenapa aku suka sekali dengan cerita sedih, cerita yang mengandung tragedi, cerita yang penuh dengan depresi. Kepadanya aku menjawab bahwa hidup jauh lebih menarik bila ada tragedi. Shakespeare tidak akan terkenal kalau tidak banyak menulis cerita tentang tragedi. Kisah cinta yang tragis antara Romeo dan Juliet, tragedi Othello, cerita tentang cinta, kecemburuan, dan penghianatan. Semua itu mengantarkan Shakespeare menuju tangga ketenaran. Titanic tidak akan menjadi film box office dan melegenda kalau Jack tidak meninggal. Jauh di lubuk hatinya orang menyukai tragedi, mencintainya, terlebih lagi kalau itu terjadi pada orang lain bukan dirinya sendiri supaya mereka bisa mengasihani orang lain dan merasa dirinya jauh lebih beruntung dari mereka. Dan aku, aku seperti kebanyakan orang lainnya merasa perlu melihat tragedi yang dialami oleh orang lain supaya bisa berkata untunglah hidupku tidak setragis itu.
Namun sejujurnya alasan kenapa aku suka dengan cerita yang penuh depresi dan kesedihan adalah supaya aku bisa menangis, menangisi hidupku. Karena tanpa cerita sedih itu aku tidak bisa menangisi hidupku. Tanpa cerita-cerita itu aku tidak akan punya alasan untuk menangisi hidupku.
Alasan kenapa aku tidak bisa menangisi hidupku karena kurasa semua orang yang mengenalku atau pernah mengenalku akan berkata aku menjalani hidup yang.. ah, apa kata yang tepat untuk mengungkapkannya? Bukan sempurna.. bukan, karena tidak ada kesempurnaan di dunia ini, tidak ada kesempurnaan yang diperbolehkan ada di dunia ini. Biasa? Ah, itu mungkin kata yang tepat. Hidup yang biasa. Hidup yang tidak perlu ditangisi, ah, mungkin lebih tepat jika aku bilang hidup yang seharusnya tidak perlu ditangisi.