Sehabis nonton Dal-Ja’s Spring dari jam 7 malam sampai jam 4 pagi hari sabtu kemaren (Duh,, ga produktif banget dah,,), gw sempet berfikir (selain kepikiran kalau Lee Min Ki ganteng dan keren..) mengenai impian. Mungkin bisa dibilang gw sedikit terispirasi oleh Kang Tae Bong (Diperankan oleh Lee Min Ki) yang rela melepaskan semua hal yang dimilikinya untuk mencari impian.


Mungkin ada baiknya gw jelasin sedikit cerita Dal-Ja’s Spring, incase ada yang baca tulisan gw ini yang mana gw sendiri ga yakin ada yang mau baca blog gw. Dal-Ja’s Spring adalah film Korea yang bercerita tentang kehidupan cewek umur 33 tahun, tentang keluarganya, pekerjaannya, dan tentu saja fokus tentang kehidupan cintanya. Ceritanya berporos pada kisah cinta antara Oh Dal Ja (diperankan oleh Chae Rim, yang maen di All About Eve..) yang berumur 33 tahun dengan Kang Tae Bong (diperankan oleh Lee Min Ki) yang berumur 27 tahun.

Ceritanya sih sebenernya  standar Korea, ada orang ketiga, keluarga ga setuju, cewek yang lebih tua dari cowoknya, yah cerita biasa.. Yang pengen gw highlight di sini sebenernya bukan kisah cinta mereka tapi tentang Kang Tae Bong (tenang-tenang bukan masalah dia ganteng dan keren kok, lebih kea rang situasi hidupnya).  Kang Tae Bong ini adalah cowok berumur 27 tahun yang berasal dari keluarga yang kaya. Kakeknya punya usaha yang cukup berhasil. Bapaknya dekan di universitas, ibunya ya tipikal ibu-ibu rumah tangga dari keluarga kaya. Dia lulusan terbaik dari fakultas hukum salah satu Universitas terbaik di Korea (gw lupa nama Univ-nya disebutin apa ga). Setelah lulus dia bekerja di salah satu firma hukum yang terkenal di Seoul dengan gaji jutaan won sebulan dan fasilitas kantor yang super duper menggiurkan. Tapi dengan semua hal yang ia miliki itu dia tidak pernah merasa bahagia. Dia selalu merasa hampa dan merasa kalau hidupnya kosong,tak ada artinya. 

Titik balik dari hidupnya itu dimulai ketika ia gagal menangani sebuah kasus yang akhirnya berakhir menjadi tragedi. Kliennya bunuh diri bersama istrinya meninggalkan anak perempuan mereka satu-satunya yang menderita kanker (well, gw ga akan mengomentari ini karena akan panjang jadinya kalo gw komentar). Trus dari situ ia merasa sangat-sangat bersalah. Dia mengevaluasi diri dan hidupnya. Dia merasa hatinya yang tidak sepenuhnya tercurah untuk pekerjaannya itulah yang menyebabkan ia tidak berusaha mati-matian untuk memenangkan kasus itu hingga akhirnya kliennya bunuh diri. Kemudian setelah mengevaluasi hidupnya itu, ia memutuskan meninggalkan pekerjaannnya, keluarganya, dan hidupnya yang mapan itu untuk mencari apa sebenarnya yang ia inginkan dalam hidup. Mencari apa yang hatinya inginkan. He left all the money he got, dan mulai wandering around., sampai akhirnya dia bertemu dengan Dal Ja dan menemukan impiannya. Yang membuat gw terkesan dengan Tae Bong adalah keberaniannya untuk meninggalkan zona aman miliknya (dari segi status dan financial) untuk mengejar sesuatu yang bahkan belum terlihat bentuknya.  

Cerita ini sangat menyentuh gw karena sebenernya gw merasakan hal yang sama yang Tae Bong rasakan. Gw lulus cumlaude dari Universitas yang cukup punya nama di Indonesia, trus punya kerjaan di perusahaan yang lumayan bonafide dengan gaji dan fasilitas yang memadai, namun gw selalu merasa kosong dan hampa. Merasa tidak bahagia.  Mungkin lo semua akan menganggap gw adalah orang yang ga tahu bersyukur. Namun bagi gw, bukannya masalahnya bukan gw ga bersyukur bisa dapet semua ini, masalahnya hati gw yang ga bisa menerimanya. Gw tahu kalau gw ga bisa menghabiskan hidup gw dengan melakukan rutinitas yang seperti ini. Melakukan sesuatu yang bahkan menurut gw sendiri merupakan hal yang tidak memberikan nilai bagi diri gw, bagi masyarakat banyak. Hati, tubuh, dan pikiran gw sudah capek tapi gw ga sanggup untuk melepaskan semua ini. Ga sanggup untuk hidup di luar apa yang telah gw miliki sekarang ini. Gw terlalu takut untuk kehilangan apa yang gw dapat selama ini. Gw belum punya keberanian seperti Tae Bong. Keberanian untuk kehilangan segalanya.  Dilain pihak, gw tahu kalau gw ga mungkin hidup seperti ini terus. Hidup berpura-pura, menentang apa kata hati, tidak bahagia namun berusaha selalu tampak gembira.

Setelah melihat Kang Tae Bong, gw jadi berfikir untuk bersiap kehilangan apa yang gw miliki sekarang demi mencari kebahagiaan. Seperti kata Tae Bong, apa gunanya punya banyak uang tapi kalau tidak bahagia. Lebih baik hidup tak tahu besok makan apa tapi hati ini merasa nyaman dan lega. Gw sekarang sedang mencoba mengumpulkan keberanian itu. Keberanian untuk kehilangan, untuk melepas hal-hal yang membebani hati gw, supaya gw bisa hidup dengan bahagia in every single second of my life.

Impian gw adalah membuat Indonesia menjadi tempat yang lebih baik. Dimana orang bisa mendapatkan akses seluas-luasnya terhadap pendidikan, kebebasan untuk berkreasi, dilindungi haknya untuk hidup dan merasa aman, dll. Gw juga bermimpi bahwa bangsa ini memiliki budaya yang tinggi. Saling menghormati hak orang lain, menghargai karya orang lain, menjunjung tinggi kemanusiaan. Impian gw itu benar-benar seperti buku PPKn (Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan) SD.

Gw tahu dan sadar kalau impian ini adalah impian gila yang emang mungkin sangat amat sulit sekali untuk dicapai. Tapi walaupun lo mau bilang gw gila, gw sekarang sedang berusaha melangkah untuk mencapai impian itu. Untuk mewujudkan impian gw itu, gw sudah membuat rencana-rencana selama 10 tahun ke depan (some plans are still in rough sketch). Dan gw memang benar-benar berkomitmen akan mendedikasikan seluruh waktu, tenaga, pikiran, dan hidup gw buat bangsa ini. Berusaha mencegah pembusukan yang menuju ke arah kehancuran ini (kata Pram).  

Namun, seperti layaknya yang terjadi dalam kehidupan, kadang-kadang gw pernah juga merasa ragu. Apakah benar bangsa ini layak untuk diselamatkan? Apakah bangsa ini layak mendapatkan pengabdian tulus dari gw? Gw sering berfikir bahwa bangsa ini sudah tak bisa diselamatkan lagi karena orang-orangnya sudah busuk luar dan dalam, sudah tak mungkin mengubah ranting busuk menjadi ranting baik. Pikiran ini sering datang terutama ketika gw mengalami hal-hal tidak menyenangkan saat berinteraksi dengan orang Indonesia (seperti yang terjadi pada tulisan sebelum ini).  

Gw bahkan sempat berfikir untuk menyelamatkan bangsa ini yang harus dilakukan adalah menyingkirkan ranting-ranting busuk dimana ini artinya menyingkirkan hampir semua rakyat Indonesia, baru kemudian bisa membuat pohon menjadi sehat kembali. Bahkan menurut gw kalau memang benar-benar ingin menyelamatkan bangsa ini hancurkan dulu kota yang bernama Jakarta sampai luluh lantak, karena semua kebusukan awalnya dari sini. Kalau Jakarta hancur bangsa akan langsung tak punya apa-apa. Dan bagusnya semua akan mulai dari awal, dari nol seperti yang terjadi pada Jepang ketika Hiroshima dan Nagasaki di bom oleh Amerika. Yang akan bisa selamat adalah orang-orang yang memiliki daya juang tinggi dan orang-orang seperti itu adalah orang-orang yang nantinya akan membuat bangsa ini jadi besar.  Well at least it’s my hypothesis. 

Gw pernah ngobrol dengan temen gw mengenai hipotesis ini dan kata dia, it’s not that simple. Jepang setelah dihancurkan bisa bangkit dan jadi sebesar sekarang karena etos kerja keras itu telah tertanam jauh dalam diri mereka. Sementara bangsa ini? Bangsa yang isinya Cuma keburukan dan kebusukan. Mana ada semangat juang dalam diri bangsa ini? Mana ada kreatifitas dan keinginan berproduksi? Kalau Jakarta hancur, yang ada adalah bangsa ini akan diinvasi oleh bangsa lain dan bukan tidak mungkin malah akan punah.  

Point itu benar-benar mengena, dilihat dari segi manapun bangsa ini tak akan cukup kuat untuk bangkit kembali. Karena memang bangsa ini dididik untuk jadi seperti sekarang, menjadi ranting-ranting busuk. Dan setelah gw pikir-pikir kalau mau menyelamatkan bangsa ini harus menciptakan budaya baru yang lebih baik, tepat seperti yang dikatakan oleh Pram.